|
Page 1 of 3 Pengarang: Chin Yung
Empat laki2 dengan dan-danan ringkas berbaris memotong djalan didepan mereka! Siapa empat orang itu? Kalau Kawanan perampok besar, masakah hanja empat orang? Apakah dalam hutan siong itu bersembunji kawan2 Mereka? Pendjahat ketjil sudah pasti tak akan berani mengganggu kereta2 piauw itu jang dilindungi begitu banjak orang. Apakah keempat orang itu djago2 Rimba Persilatan jang sengadja datang untuk me-rampas piau?*)
Dengan matanja jang tadjam, pemimpin rombo-ngan piauw mengawasi ke-empat pentjegat itu. Jang berdiri diudjung kiri adalah seorang jang bertubuh kurus-ketjil dan berdjanggut runtjing, kedua tangan meng-genggam Go-bie Kong-tjek (pusut jang terbuat dari badja). Jang kedua berbadan tinggi-besar, seolah-olah sebuah pagoda besi. Didepannja ber-dirilah sebuah papan batu jang sangat besar dengan huruf-huruf: "Kuburan men-diang Oey Seng Poen." Batu nisan! Perlu apa batu nisan itu disitu? Oey Seng Poen? Dalam dunia Kang-ouw, nama itu belum pernah terdengar!
Orang jang ketiga bertubuh sedang, tak besar dan tak ketjil, kulit mukanja putih dan djika tidak bergigi tonggos, ia dapat dikatakan seorang pria jang tampan. Ditangannja, terdapat sepasang Lioe-seng-toei (bandringan). Jang keempat adalah seorang setengah tua jang matjamnja seperti orang sakit dan sedang berdiri bersandar pada sebuah pohon, disebelah kanan. Pakaiannja tjompang-tjam-ping, tenang2 ia meng-hisap sebatang pipa pan-djang sambil menitjap-itjapkan mata, ia menge-pulkan asap dari mulutnya. Dengan sikapnja jang atjuh tak atjuh ia seakan-akan tak meman-dang sebelah mata kepada tudjuhpuluh orang lebih jang mengawal piauw itu.
Jang tiga masih tak mengapa, tetapi si–penja-kitan benar2 tak boleh dibuat gegabah. Tak bisa salah lagi, ia tentu berkepandaian tinggi dan akan merupakan lawan terberat. Si-pemimpin piauw lantas sadja ingat akan banjak tjerita jang tersiar dalam dunia Kang-ouw: Bagaimana seorang nenek tua dengan tangan kosong membinasakan lima pendjahat besar, bagaimana seorang pengemis muda mengatjau dikota Thay-goan, bagaimana seorang gadis tjantik merobohkan seorang ahli silat kenamaan di Thay-tong… Memang benar, dalam Rimba Persilatan, orang harus berhati-hati ter-hadap lawan jang kelihatan lemah atau ketolol-tololan.
Si-pemimpin piauw jang sedang menaksir-naksir ke-empat lelaki itu – adalah Tjong-piauw-tauw (pemimpin umum) dari Wie Sin Piauw-kiok dikota See-an., propinsi Siamsay. Ia she Tjioe, bernama Wie Sin dan ber-gelar Tiat-pian Tin-pat-hong (si-Petjut-besi jang berkuasa didelapan pendjuru). Semakin ia menimbang-nimbang, semakin bimbang hatinja. Piauw jang sedang dilindunginja adalah milik Ong Tek Eng, seorang saudagar di-See-an, sebesar duapuluh laksa tahil perak. Tak usah dikatakan lagi, piauw itu bukannja ketjil, tapi bagi Wie Sin Piauw-kiok djumlah itu tidak terlalu besar, karena piauw-kiok tersebut pernah melindungi piauw jang lebih besar djumlahnja, parnah me-lindungi empatpuluh laksa dan delapan puluh laksa tahil perak.
Apa jang paling di-kuatirkannja sedari ia me-ninggalkan See-an adalah keselamatan golok dalam bungkusan dipunggungnja. Ia menerima kedua golok itu dalam gedung Tjoan-siam Tjongtok (Tjongtok dari pro-pinsi Soe-tjoan dan Siam-say), dari tangan Tjoan-siam Tjongtok sendiri. Ia ingat ba-gaimana dengan hati ber-debar2, ia mendengarkan pesan pembesar tersebut.
"Tjioe Piauw-tauw," kata Lau Taydjin, si-Tjongtok. "Sepa-sang golok itu, jang diberi nama Wan-yo-to, harganja bukan main. Djagalah baik2. Golok ini dulu disimpan dalam istana kaizar. Pada djaman kaizar almarhum, mendiang Kaizar Kong-hie, entah bagaimana, sepasang golok ini telah ditjuri orang. Begitu lekas kaizar jang sekarang naik ketahta, beliau segera mengeluarkan perin-tah rahasia supaja para pem-besar di-delapanbelas propinsi berusaha mentjarinja. Se-lama tigabelas tahun, usaha itu tidak berhasil. Achirnja, berkat redjeki Hong-siang (kaizar), akulah jang berhasil. Huh2! Aku mengenal Wie Sin Piauw-kiok sebagai perusa-haan piauw jang paling boleh diandalkan. Oleh sebab itu, sekarang aku mempertja-jakan tugas ini kepadamu, tugas membawa Wan-yo-to ke-Pakkhia. Supaja kau bisa tiba dikota radja dengan selamat, sedikitpun kau tak boleh membotjorkan rahasia ini. Sekembalimu sesudah menunaikan tugas ini dengan berhasil, aku pasti akan memberi hadiah jang setimpal kepadamu." Demikian pesan Lauw Tay-djin, Tjoan-siam Tjongtok.
*) Piauw adalah barang berharga jang dilindungi oleh perusahaan pengawal jang anggauta2nya terdiri dari orang2 jang pandai silat. Piau-kiok adalah nama perusahaan sematjam itu. Didjaman dulu, di Tiongkok, barang2 jang tidak dikawal oleh pengawal tangguh, sering diganggu perampok ditengah djalan.
Nama Wan-yo-to jang sa-ngat tersohor, ia memang pernah mendengar dari guru-nja. Dalam sepasang golok itu, jang satu pendek dan jang lain pandjang, tersembunji rahasia terbesar dari Rimba Persilatan. Sepandjang tjeri-ta, orang jang mendapat-kannja akan "tak punja tan-dingan lagi dikolong langit," suatu hal jang paling iidam-idamkan setiap orang jang pandai silat. Ketika mendengar tjerita itu, ia menganggapnja sebagai dongengan belaka. Tapi siapa njana, Tjoan-siam Tjongtok benar2 sudah men-dapatkan sepasang golok itu dan diluar dugaan; ia sen-dirilah jang telah ditugaskan membawanja ke-kota radja untuk dipersembahkan ke-pada kaizar.
Sepasang golok itu di-bungkus rapi dengan sutera kuning dan diberi tjap Tjong-tok. Ia sebenarnja kepingin sekali melihat sendjata mustika itu, tapi siapa berani membuka bungkusan itu? Disamping itu, Lau Tjong-tok djuga memerintahkan empat orang Wie-soe (pe-ngawal pribadi) jang diper-tjaja untuk turut dalam rom-bongan piauw dengan me-njamar sebagai piauw-soe dan pegawai. Tjioe Wie Sin insjaf, bahwa serta mereka bukan sadja untuk memban-tu, tapi sekalian untuk meni-lik segala gerak-gerik-nja.
Pada suatu hari, sebelum rombongan piauw berangkat, Wie-soe-thio (pemimpin Wie-soe) dari gedung Tjongtok telah mengirim orang untuk memindahkan seantero ke-luarga Tjioe – semuanja dua-belas orang – kegedung Wie-soe-thio. Sebagai alasan dikemukakan, bahwa pemin-dahan itu dilakukan karena kuatir keluarga Tjioe Tjong-piauw-tauw tak ada jang melindungi, sesudah ia meninggalkan See-an. Teta-pi, sebagai seorang ber-pengalaman, Tjioe Wie Sin tentu sadja mengerti maksud tindakan itu. Semua itu berarti, bahwa Lauw tjongtok telah menahan ibu, isteri, gundik dan anak-anaknja sebagai tanggungan. Djika terjadi sesuatu jang tak diinginkan dengan sepa-sang golok mustika itu, maka bukan sadja ia sendiri akan mendapat hukuman mati, tapi seluruh keluarga-nja pun tak usah berharap bisa hidup terus.
Selama hidupnja, Tjioe Wie Sin mengalami banjak taufan dan gelombang besar. Tapi baru kali ini ia meninggalkan keluarganja dengan hati berdebar-debar begitu keras, dengan kekuatiran dan ke-girangan tertjampur men-djadi satu. Djika ia selamat berhasil mengantar sepa-sang golok itu sampai dikota radja, maka bukan sadja Lau Tjongtok akan memberi-kannja hadiah besar, tapi sang kaizar pun, dalam kegirangannja, mungkin akan menganugerahkan satu atau lain pangkat kepadanja. Dengan demikian, ia akan bisa mengangkat deradjat leluhurnja dan boleh tak usah melakukan lagi peker-djaan jang penuh bahaja sebagai piauw-tauw itu.
Perdjalanan dari See-an ke-Pakkhia bukannja dekat dan sedikitnja harus melalui tigapuluh gunung besar-ketjil dengan sarang2 perampok-nja. Terhadap pendjahat biasa sedikitpun ia tak kuatir, karena kepandaiannja me-mang tjukup tinggi dan nama Tiat-pian Tin-pat-hong tjukup dikenal orang. Tapi Wan-yo-to mempunjai daja penarik jang sangat hebat. Djika rahasia itu botjor, entah berapa banjak djago akan turun tangan tjoba memi-likinja. Demikianlah menga-pa dalam usaha menunaikan tugasnja jang sangat berat, ia sengadja menerima peker-djaan mengawal duapuluh laksa tahil perak itu untuk digunakan sebagai tedeng tugasnja jang utama. Andai-kata piauw tersebut dirampas orang dan Wan-yo-to bisa diantar dengan selamat sam-pai dikota radja, ia sudah boleh merasa beruntung.
Demikianlah kedudukan Tjioe Wie Sin, ketika ia mengawasi empat pentjegat-nja dengan hati bimbang.
Sambil memegang Tiat-pian jang dilibatkan dipinggangnja, ia batuk-batuk beberapa kali, kemudian berkata sambil memberi hormat: "Aku jang rendah bernama Tjioe Wie Sin. Aku mengakui kesa-lahanku, karena diwaktu lewat tempat sehabat2, aku tidak memberi hormat kepada ka-lian. Untuk itu, aku memohon maaf." Dengan berkata be-gitu, ia berusaha untuk meng-elakkan suatu pertempuran. Si-penjakitan memegang dadanja dan batuk2 beberapa kali.
Si-kurus mengangkat pusut-nja dan berkata dengan per-lahan: "memberi hormat kepa-da kami boleh tak usah. Eh, mustika apakah itu, jang kau lindungi? Tinggalkanlah disini." Bukan main kagetnja Tjioe Wie Sin. Soal Wan-yo-to tak pernah diberitahukannja ke-pada siapapun djuga, bah-kan orang-orangnja jang paling dipertjaja djuga meng-anggap, bahwa dalam per-djalanan ini mereka hanja mengawal duapuluh laksa tahil perak tersebut. Bagai-mana keempat orang itu bisa mengetahui rahasianja?
Sesudah menetapkan hati-nja, ia mengangkat kedua tangannja seraja berkata pula: "Harap supaja kalian sudi memaafkan kedua ma-taku jang tiada bidjinja. Bo-lehkah aku mengetahui na-ma besar sahabat-sahabat?"
"Perkenalkan dirimu dulu," kata si-kurus. "Aku jang rendah she Tjioe, bernama Wie Sin," katanja. "Sahabat2 didunia Kang-ouw telah menghadiahkan gelar "Tiat-pian Tin-pat-hong ke-padaku." Si-penjakitan tertawa di-ngin dan mengedjek: "Hm! Perkataan Tin (menguasai) sebaiknja ditukar dengan Pay (memberi hormat dengan berlutut)." "Ditukar dengan Pay?" si kurus menegas. "Ha! Orang she Tjioe! Toako-ku telah menghadiahkan kau suatu gelar lain: Tiat-pian Pay-pat-hong (si-Petjut-besi jang berlutut kedelapan pen-djuru)." Hampir berbareng dengan edjekan itu, mereka berempat terbahak-bahak.
Sebisa-bisanja Tjioe Wie Sin menekan napsu amarah-nja. "Bagus!" katanja dengan suara menjeramkan. "Boleh-kah aku menanja: Dari djalan mana kalian datang? Siapa-kah pemimpin kalian?"
"Baiklah," kata si-kurus sambil menundjuk si-penja-kitan. "Tapi awas, djangan-lah djatuh mampus karena kaget. Toako kami adalah Hoen-hee Sin-liong Siauw Yauw Tjoe (si-naga-malaikat), Djieko jalah Tan-tjiang Po-pay Siang Tiang Hong (dengan satu tangan membelah pay batu), Shako adalah Lioe-seng Kan-goat Hoa Kiam Eng (si-Bintang-sapu mengedjar bulan), sedang aku sendiri jalah Pat-po Kan-sian Say-Tjoan–tjoe Tah-soat-boe-heng Tok-kak-soei-siang-hoei Song-tjek-kay-tjit-seng *) Kay It Beng!"
Tjioe Wie Sin heran bukan main. "Mengapa gelar orang itu begitu pandjang?" tanja-nja didalam hati.
Sesudah memperkenalkan diri, si-kurus Kay It Beng berkata pula: "Kami ber-empat telah bersumpah untuk mendjadi saudara dan selalu melakukan perbuatan-perbuatan mulia, meng-hantam jang kuat, menolong jang lemah, merampas milik jang kaja untuk membantu jang miskin. Oleh sebab itu, sahabat-sahabat dalam kalangan Kang-ouw mem-beri nama Thay-Gak Soe-hiap (Empat-pendekar Thay-gak) kepada kami."
Mendengar keterangan itu, Tjioe Wie Sin berkata dalam hatinja: "Ditilik dari mereka, si-kurus tentunja mempunjai ilmu mengentengkan badan jang sangat tinggi, si-tinggi-besar tentu hebat tenaga tangannja, sedang si-muka-putih tentu liehay dalam menggunakan Lioe-seng-toei. Hanja nama Hoen-hee Sin-liong Siauw Yauw Tjoe jang agak luar biasa. Nama itu seperti djuga nama seorang berilmu tinggi, seorang terkemuka dari Rimba Persilatan. Tetapi mengapa aku belum pernah mendengar nama Thay-gak Soe-hiap disebut-sebut orang? Biar bagaimana djuga, hari ini aku harus berhati-hati." Dengan pikiran demikian, ia lantas sadja memberi hormat sekali lagi seraja berkata: "Nama besar kalian aku sudah men-dengar lama sekali. Sungguh beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu dengan kalian. Mengingat, bahwa piauw-kiokku belum pernah mem-punjai gandjelan dengan Soe-hiap, maka aku mengharap, supaja kalian sudi membuka djalan. Dikemudian hari, aku tentu akan mengundjungi sahabat2 untuk menghatur-kan banjak2 terima kasih."
"Membuka djalan adalah soal mudah sekali dan kami-pun tak sudi merampas piauw-mu." Kata Kay It Beng. "Kedatangan kami hanjalah untuk memindjam satu-dua mustika."
"Mustika apa?" tanja Wie Sin.
"Huh-huh!" Kay It Beng mengeluarkan suara di-hidung.
"Sungguh aneh! Mengapa kau menanjakan kepadaku? Apakah kau sendiri tak tahu?"
Tjioe Wie Sin mengerti, bahwa soal itu tak akan bisa dibereskan dengan perda-maian. Ia sekarang jakin, bahwa keempat orang itu memang menginginkan Wan-yo-to. Sambil membuka sepasang pian jang di-telibatkan dipinggangnja, tenang2 ia berkata: "Kalau begitu, tiada djalan lain daripada meminta penga-djaran dari Thay-gak Soe-hiap. Siapa jang akan madju lebih dulu?" Sehabis berkata begitu, ia menoleh kebela-kang dan menggapai. Lima piauwsoe dan empat Wie-soe dari gedong Tjongtok, lantas sadja mendekat. "Dalam menghadapi pen-djahat2 itu, kita tak usah memegang peraturan." Bisik-nja. "Kepung sadja mereka!" Dengan memberi perintah begitu, didalam hatinja ia mengandung maksud ter-tentu. Selagi kawan-kawannja bertempur dengan empat pendjahat itu, ia hendak kabur seorang diri dengan membawa golok mustika itu.
--
*) Pat-po Kan-sian= Delapan-tindak-mengedjar-tonggeret, sematjam ilmu mengentengkan badan.
"Toa-piauw-tauw," kata Kay It Beng.
"Biarlah lebih dulu aku tjoba2 mengadu pusutku dengan petjutmu." Sehabis berkata begitu, ia segera menerdjang.
Tanpa turun dari tunggangannja, Tjioe Wie Sin menjabat Kong-tjek musuh dengan pukulan Tho-wan-to-so (Di-taman-tho-merampas tombak) sambil mendjepit perut kuda dengan kedua lututnja, sehingga hewan itu lantas sadja melompat kedepan. "Bagus!" Toa-piauw-tauw hendak kabur!" teriak It Beng.
"Aku hendak menjelidiki apakah kau menjembunjikan kontjo diluar hutan!" kata pemimpin piauw itu sambil mentjambuk kuda. Melihat musuh kabur terus, buru-buru Hoa Kiam Eng melontarkan Lioe-seng-toei-nja jang menjambar pung-gung Wie Sin. Tanpa me-nengok, Tin-pat-hong me-ngebaskan tjambuknja jang tangan kiri kebelakang dengan menggunakan pu-kulan Ya-tjong-sam-tjee (Diwaktu-malam-menjerang-tiga-benteng). Dengan ber-bunji "trang!", bandringan itu terpukul kembali.
Sesudah berkenalan de-ngan sendjata Kay it Beng dan Hoa Kiam Eng, ia meras, bahwa ilmu silat kedua pendjahat itu tidak seberapa tinggi. Ia me-nengok dan melihat Siauw Yauw Tjoe masih tetap bersandar pada pohon dengan memegang pipanja jang pandjang, tengah mengawasi tiga saudaranja jang sedang dikepung oleh para piauw-soe. Sikapnja tetap tenang, tanpa mem-perlihatkan sikap takut sedikit djua.
Wie Sin kaget dan berkata didalam hatinja: "Djika si-penjakitan turun tangan, mungkin aku sukar me-loloskan diri lagi." Ia mematju tunggangannja jang terus kabur sekeras-kerasnja. Mendadak Siauw Yauw Tjoe mengajun tangan kanannja seraja berteriak: "Awas piauw!" Dengan disertai bunji njaring, serupa benda hitam menjambar kearah Wie Sin. Kepala piauwsoe ini menangkis dengan tjambuknja dan "plak!", benda itu menempel pada sendjatanja!
Terperandjatlah Wie Sin dan penuh ketakutan, ia segera membedal tunggangannja tanpa menengok lagi.
Sesudah berada diluar hutan dan melihat tiada jang mengubar, ia menahan kudanja dan memeriksa sendjata rahasia jang menempel pada tjam-buknja. Ia merasa malu ber-bareng geli ketika ternjata, bahwa "sendjata rahasia" itu hanja sebuah sepatu rusak. Dengan perasaan sangsi, untuk beberapa saat ia duduk bengonng diatas punggung kudanja. Apakah ia sebaiknja kabur terus atau haruslah ia menunggu disitu untuk me-lihat perkembangan selan-djutnja?
Sekonjong-konjong dari da-lam hutan terdengar djeritan manusia jang sangat njaring, seperti babi disembelih. Djeritan itu hanja terdengar satu kali, kemudian suasana sunji-senjap pula, malah bunji beradunja sendjata djuga tidak terdengar lagi. Tjioe Wie Sin djadi semakin bimbang. "Apakah dalam waktu se-singkat itu, semua orang-orangku sudah dibasmi oleh Thay-gak Soe-hiap?" tanja-nja didalam hati.
Tiba2 ia mendengar te-riakan seorang: "Tjioe Tjong-piauw-tauw!… Tjioe Tjong-piauw-tauw!…" Suara itu adalah suara salah seorang piauw-soe. Ia tak mendja-wab, tangannja meraba bungkusannja dimana ter-simpan sepasang Wan-yo-to itu. Sesaat kemudian, ter-dengar pula teriakan lain: "Tjioe Tjong-piauw-tauw. Pendjahat sudah lari! Di-pukul mundur oleh kami!"
Wie Sin terkesiap. "mung-kinkah itu?" tanjanja didalam hati sambil memu-tarkan tunggangannja. Di lain saat, dari dalam hutan keluarlah salah-seorang pegawai piauw-kiok jang begitu melihat pemimpinnja lantas sadja berseru dengan suara girang: "Tjong-piauw-tauw. Semua pendjahat sudah kabur! Mereka tak punja guna."
"Benarkah begitu?" tanja Wie Sin.
"Si-penjakitan dibatjok Thio Piauw-soe sampai darahnja muntjrat," djawabnja. "Se-mua lantas kabur lari tunggang-langgang." Tjioe Wie Sin girang bukan main, tjepat2 ia kembali kedalam hutan. Begitu ber-temu dengan orang-orang-nja, ia berkata" "Belasan pendjahat jang bersembunji diluar hutan djuga sudah ku-usir." Seketika itu mukanja mendjadi merah karena malu dustanja sendiri.
Sambil mengajun golok, Thio Piauw-soe berkata de-ngan bangga: "Huh! Pendekar apa? Tak lebih tak kurang segala gentong kosong!" Semua orang tertawa, tertawa riang-gembira, men-dadak dibelakang hutan ter-dengar rintihan manusia
"Aduh! …….. aduh!"
"Bangsat!" bentak Tjioe Wie Sin. "Keluar kau!" Suara merintah itu terdengar njata.
Thio Piauw-soe mengajun-kan tangannja dan sebatang panah tangan menjambar kearah suara itu. "Aduh!" ter-dengar djeritan seseorang. Dengan golok terhunus, dua pengawal piauw-kiok segera masuk kegombolan pohon dan menjeret keluar orang itu. Semua orang ter-perandjat, karena jang diseret itu ternjata siorang she Ong jang turut mengantar piauw. Pakaiannja tjabik2 sedang sebatang anak panah menantjap di-pantatnja.
Sesudah rombongan Wie Sin Piauw-kiok tak kelihatan bajangannja lagi, barulah Thay-gak Soe-hiap keluar dari tempat mereka bersem-bunji. Hoa Kiam Eng merobek udjung badjunja untuk mem-balut luka Siauw Yauw Tjoe. "Toako, apakah lukamu berat?" tanja Siang Tiang Hong.
"Tak apa2!" djawabnja. "Hm! Mana mungkin kita me-lawan musuh jang begitu besar djumlahnja."
Hoa Kiam Eng menghela napas. "Sedari semula aku sudah tak setudju, tapi Shako tetap berkeras," kata-nja dengan nada menjesal. "dan akhibatnja, kini Toako mendapat luka." "Mereka seperti kawanan kerbau gila," kata Kay It Beng. "Kalau sesudah mendengar nama besar Thay-gak Soe-hiap mereka masih sungkan mundur, bisa apa kita?" "Sudahlah, kita tak boleh menjalahkan Shatee," kata Siauw Yauw Tjoe.
"Bagaimana baiknja seka-rang?" tanja Siang Tiang Hong. "Dengan tangan hampa, kita malu menemui manusia."
Ketiga saudaranja mem-bungkam. Berselang bebe-rapa saat, berkatalah Kay It Beng: "Menurut pendapatku …….." Baru sedemikian dapat diutjapkannja, ketika diluar hutan men-dadak terdengar orang berlari-lari dari utara ke-selatan. "Aha!" kata Kay It Beng pula. "Dua orang! Sekarang dua melawan satu. Kambing gemuk ini tentu tak akan terlolos lagi!"
"Bagus!" kata Siang Tiang Hong. "Biar bagaimana djuga, kita harus merampas be-berapa puluh tahil perak." Keempat saudara itu segera berpentjar dan bersembunji dibelakang pohon2 besar. Beberapa saat kemudian, seorang jang dikedjar seorang lain masuk kehutan. Jang berlari didepan ada-lah seorang pemuda, usianja kurang-lebih duapuluhtudjuh tahun dan tangannja me-megang sebatang golok. Tiba2 dia berbalik dan berteriak: "Perempuan bang-sat! Apakah benar2 kau mendjadi pembunuh?"
Thay-gak Soe-hiap ter-kedjut. Si-pengedjar adalah seorang wanita muda jang menggendong baji dipung-gungnja. Tanpa mendjawab ia mementang gendewa dan melepaskan sedjumlah pe-luru. Laki2 itu menangkis dengan goloknja, tetapi ia tak berani membalas me-njerang.
"Siapa kau? " bentak Siauw Yauw Tjoe.
Kay It Beng bersiul njaring dan Thay-gak Soe-hiap melompat keluar dari tempat sembunji.
"Berhenti!" seru Kay It Beng.
Laki2 itu kabur lekas2 dan sambil lari, ia menengok kebelakang serta mentjatji: "Perempuan bangsat! Ganas benar kau? Djangan me-njalahkan aku, djika aku kelak turun tangan!. "Andjing! " wanita itu balas memaki. "Djika hari ini aku tak bisa memampuskanmu, aku, Djim Hoei Yan, ber-sumpah tak mau mendjadi manusia lagi."
Sesaat itu, Siauw Yauw Tjoe dan tiga saudaranja sudah menghadang didepan si-lelaki.
"Lim Giok Liong!" teriak Djim Hoei Yan. "Kau masih belum mau berhenti? ". "Minggir!" bentak Lim Giok Liong kepada Siang Tiang Hong jang berdiri di-depannja. Tiba2 ia menun-duk dan sebutir peluru tepat sekali mengenai hidung Siang Tiang Hong. "Perempuan bangsat!" teriak si-orang she Siang dengan gusar sekali. "Mengapa kau menjerang aku? " "Habis mau apa kau?" djawab perempuan itu sam-bil melepaskan pula dua butir peluru, jang satu me-ngenai dada Siang Tiang Hong, sedang jang lain menghadjar lengannja, se-hingga batu nisan jang di-pegangnja djatuh ketanah.
Melihat Djieko mereka dihadjar, Kay It Beng dan Hoa Kiam Eng menerdjang dengan berbareng. Dengan tenang Djim Hoei Yan melepaskan lagi dua butir peluru, jang satu berkenalan dengan alis Kay It Beng, jang lain mampir dimulut Hoa Kiam Eng, sehingga sebuah giginja terlepas. Selagi Djim Hoei Yan di-rintangi oleh keempat orang itu, Lim Giok Liong sudah kabur keluar hutan. Bukan main gusarnja wanita itu. Dengan gergetan ia mele-paskan sebutir peluru jang menjambar tangan Lauw Yauw Tjoe, sehingga pipa pandjangnja djatuh ditanah.
Ia kelihatan puas. Sambil bersenjumn, berteriaklah ia: "Lim Giok Liong! Djangan kabur kau!". "Hei, perempuan bangsat!" sajup-sajup terdengar dja-wabnja. "Djika kau mem-punjai njali, hajo berkelahilah dengan menggunakan sen-djata! Mengubar orang dengan peluru bukan per-buatan ksatria.". "Andjing!" geram Djim Hoei Yan jang lalu mengedjar lagi.
"Toako, siapakah mereka?" tanja Hoa Kiam Eng. "Lim Giok Liong adalah se-orang gagah jang pandai menggunakan golok, sedang Djim Hoei Yan jalah seorang djago betina jang mahir me-lepaskan. peluru," djawab-nja. Kay It Beng tertawa di-dalam hatinja. Djawab sang kakak adalah djawab jang tak perlu diberikan. "Wanita berwadjah tjantik," kata Hoa Kiam Eng. "Mungkin si-orang she Lim telah tertarik dan tjoba melakukan per-buatan tak pantas."
|