|
Page 1 of 6
karya : Kho Ping Hoo
dikirim oleh : Yoeng Kiong - belum Tamat
Malam Jumat kliwon yang gelap pekat dan menyeramkan dalam tahun 1613.
Dilereng Gunung Kawi yang sunyi sepi itu suasananya demikian angker dan
menyeramkan. Sebuah pondok kayu yang berdiri di lereng sebelah timur tampak
sunyi diselimuti malam. Hanya sebuah lampu gantung kecil menerangi depan
pondok, sinarnya yang lemah menimbulkan bayang-bayang besar dan menakutkan,
menjadikan rupa-rupa bentuk yang mengerikan. Pohon-pohon besar di sekitarnya
yang tersapu angin malam tampak seolah-olah menjadi hidup dan bergerak-gerak.
“Kulik-kulik-kulik……!” Suara burung malam yang terdengar lapat-lapat
menambah seram suasana dan bau kemenyan menyengat hidung. Bau kemenyan ini
mengingatkan orang-orang mati dan setan iblis belasakan.
Terpisah dua lereng di bawah pondok itu lapat-lapat dapat terdengar suara
anjing meraung, datang dari arah dusun di sana yang tampak lampunya
berkelap-kelip dari lereng di pondok itu. Tentu malam itu tak seorang pun dari
para penduduk dusun itu berani keluar, karena telah menjadi kepercayaan turun
temurun bahwa malam Jumat kliwon adalah malamnya bangsa setan demit dan iblis
yang berkeliaran di permukaan muka bumi untuk menggoda manusia.
Di dalam pondok kayu itu pun suasananya sepi sekali seolah pondok itu
tidak ada penghuninya. Padahal penghuni pondok itu sedang duduk bersila di atas
pembaringannya. Seorang laki-laki berusia enam puluh lima tahun, rambutnya yang
sudah hampir putih semua itu digelung ke atas dan diikat kain berwarna kuning.
Jubahnya seperti jubah pendeta yang berwarna putih dan hanya merupakan pakaina
yang amat sederhana. Wajahnya masih tampak segar seperti wajah seorang muda
saja, terutama sekali sepasang matanya yang lembut itu kadang mengeluarkan
cahaya mencorong, menandakan bahwa dia seorang pendeta atau pertapa yang memiliki
kesaktian dan tenaga dalam yang amat kuat.
Dari pintu kamarnya muncuk seorang pemuda yang segera duduk bersila di
bawah pembaringan. Melihat pertapa itu seperti orang dalama samadhi, pemuda itu
tidak berani menggangunya, hanya duduk diam seperti gurunya, bersila dan
memangku kedua tangan. Tak lama kemudian keduanya sudah tenggelam ke dalam
samadhi mereka dan suasana menjadi semakin sunyi. Siapakah pendeta itu? Dia
seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun bertapa di lereng Gunung Kawi.
Namanya disebut orang Bhagawan Sidik Paningal. Seorang tua yang bertubuh
jangkung kurus, yang mukanya masih segar seperti muka orang muda dan wajah itu
masih terdapat bekas wajah seorang pria yang tampan dan lembut. Adapun pemuda
yang duduk bersila di bawah pemabaringan itu adalah Sutejo, muridnya yang
terkasih. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap
dengan dada yang bidang dan kedua pundak dan lengannya tampak kokoh kuat.
Wajahnya tampan dengan sepasang mata lebar yang memandang dunia dengan sinar
mata cerah dan penuh semangat, sepasang alisnya hitam tebal, hidungnya mancung
dan mulutnya selalu mengandung senyum yang ramah. Dagunya berlekuk menambah
kejantanan wajah itu, dan kulit tubuhnya juga bersih kemuning. Rambutnya
panjang ditekuk dan digelung ke atas, diikat dengan sehelai kain biru. Bajunya
berlengan penadek sebatas siku, celananya hitam sampai ke betis dan sehelai
sarung dikalungkan di pundak kiri. Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dia
menghadap gurunya bersamadhi, diapun tidak berani menggangu, hanya mengikuti
contoh gurunya, ikut pula bersamadhi di depan gurunya.
Tiba-tiba Bhagawan Sidik Paningal terbatuk-batuk tiga kali. Batuk yang
lebih merupakan isyarat kepada muridnya yang berada di depannya bahwa dia kini
sudah sadar dari samadhinya dan isyarat itupun bertanya apa keperluan muridnya
memasuki kamarnya dan menghadap.
Sutejo menangkap isyarat itu dan menyembah. “Mohon maaf Bapa, bahwa saya
berani menghadap dan mengganggu samadhi Bapa. Akan tetapi, Bapa, sejak senja
tadi, saya merasakan sesuatu yang aneh, suasana yang berlainan sekali daripada
malam-malam yang lain. Seluruh perasaan saya tergugah, bahkan batin saya merasa
terkacau oleh suatu tenaga yang rahasia. Karena itu saya berani mengganggu Bapa
untuk minta penjelasan apa artinya semua yang saya rasakan pada saat ini.”
“Hong wilaheng…. Andika juga merasakan itu, Sutejo? Bagus, hal itu
menunjukkan bahwa andika telah memiliki kepekaan. Memang apa yang andika
rasakan itu ada sebabnya, cukup. Sekarang cepatlah engkau pergi ke belakang,
mengambil air jernih sepiring dan letakan piring itu di depan kita di sini.
Cepat, mereka telah mulai menyerang!”
Sutejo terkejut. Siapa yang mulai menyerang? Dan menyerang bagaimana yang
dimaksudkan gurunya? Akan tetapi dia tidak bertanya dan cepat melaksanakan
perintah gurunya, mengambil air jernih dalam sebuah piring yang dibawanya masuk
lagi ke kamar gurunya lalu meletakkan piring itu di atas lantai di antara
mereka.
“Bagus! Sekarang mari kita bersamadhi lagi dan kerahkan seluruh tenaga
batinmu untuk melindung dirimu dari marabahaya. Kerahkan aji kekebalanmu seolah
engkau berhadapan dengan musuh yang hendak menikam tubuhmu. Dan jangan banyak
bertanya, lakukan saja apa yang kukatakan.”
“Sendhika, Bapa Guru.” Sutejo tidak bertanya-tanya, melainkan sepenuhnya
menaati perintah gurunya. Dia bersila lagi dan bersamadhi mengumpulkan seluruh
akal pikirannya dan mengerahkan aji kekebalan untuk melindungi tubuhnya.
“Kulik-kulik-kulik......!” Burung malam itu seperti terbang melewati atas
pondok mereka sambil mengeluarkan bunyi yang mengerikan itu.
Akan tetapi Sutejo tidak memperdulikan suara itu dan tetap tenggelam ke
dalam samadhinya. Terdengar pula raungan anjing di kejauhan dan kelepak sayap
burung di atas rumah, lalu bunyi seperti dua batang tulang dipukul-pukulkan,
“Tek-tek-tek-tek!” Menurut dongeng tahyul itu adalah suara setan tetekan.
Akan tetapi semua itu tidak menggoyahkan Sutejo yang tetap tenang dalam
samadhinya. Bau kembang menyan semakin menyentuh hidung dan tiba-tiba Sutejo
merasa dadanya dan lehernya tertusuk sesuatu yang runcing. Akan tetapi aji
kekebalannya menolak tusukan itu dan terdengar suara nyaring berdenting di
depannya, di atas piring terisi air jernih itu. Sampai beberapa kali peristiwa
itu berulang, namun semua tusukan tidak ada yang mempan ketika mengenai kulit
tubuh Sutejo yang sudah dilindungi aji kekebalan Kawoco (Baju Besi) itu.
Kemudian sunyi kembali dan terdengar Bhagawan Sidik Paningal terbatuk
tiga kali. Sutejo membuka matanya dan yang pertama kali dilihatnya adalah
piring terisi air jernih itu. Dan di dalam air itu, tampak jelas adanya
beberapa batang jarum dan paku berserakan di dalam piring! Bhagawan Sidik
Paningal membuat gerakan dan ternyata kakek itu melemparkan dua batang cundrik
(keris kecil) dari atas pembaringan. Dua batang cundrik itu jatuh ke atas
lantai dekat piring dan Sutejo melihat betapa ujung kedua batang cundrik itu
berwarna biru kehitaman, tanda bahwa dua batang senjata kecil itu mengandung
racun yang amat berbahaya.
“Sadhu-sadhu-sadhu-sadhu...! Keji sekali orang yang menyerang kita dengan
ilmu hitamnya.”
Suetjo terbelalak. “Kita diserang orang, Bapa? Jadi beginikah orang
menyerang dengan gelap dengan ilmu santet?” Sutejo pernah diceritakan gurunya
tentang ilmu hitam dan ilmu santet akan tetapi baru sekarang ini dia
menyaksikan sendiri karena diapun menjadi sasaran serangan santet!
Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk. “Bawalah semua itu ke
belakang dan tanam dua batang cundrik dan semua paku dan jarum itu ke dalam
tanah.”
Tanpa bicara Sutejo melaksanakan perintah gurunya lalu dia duduk kembali
di hadapan gurunya.
“Akan tetapi, Bapa. Bukankah Bapa dulu pernah mengatakan bahwa serangan
ilmu hitam seperti itu dapat ditangkis dan semua serangannya dapat dikembalikan
kepada penyerangnya? Kenapa Bapa malah memerintahkan saya untuk mengubur semua
senjata rahasia itu?”
“Kulup, membalas kejahatan dengan kejahatan pula adalah perbuatan sesat.
Mereka menyerang dengan santet kepada kita, hal itu jelas merupakan kecurangan
dan kejahatan. Kalau sekarang kita menyerang mereka dengan cara yang sama,
bukankah itu berarti keadaan kita tidak sama dengan mereka? Tidak, muridku. Dan
ingatlah bahwa selama hidupmu engkau tidak boleh melakukan penyerangan dengan
ilmu santet yang jahat dan curang itu.”
“Lalu, kalau demikian, apakah kita harus mendiamkan saja perbuatan jahat
orang terhadap kita?”
“Jangan khawatir akan hal itu. Yang menjerat seseorang, yang membalas
seseorang adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Aku percaya bahwa besok pagi
penyerangnya sendiri akan datang ke sini. Sekarang beristirahatlah engkau,
Sutejo karena besok akan terjadi hal-hal menegangkan yang mungkin akan menguras
tenaga kita. Jangan khawatir, biasanya serangan ilmu hitam yang tidak mengenai
sasaran tidak akan diulangi dalam semalam. Tidurlah.”
“Sendhika, Bapa.”
Suetjo lalu memasuki kamarnya sendiri. Pondok kayu sederhana itu memang
hanya memiliki dua buah kamar yang bersebelahan. Biarpun baru saja menghadapi
peristiwa yang menegangkan, namun begitu Sutejo mengambil keputusan untuk
menaati gurunya dan tidur, maka segera dia tertidur lelap.
*******
Matahari pagi muncul dengan megahnya. Sinarnya sejak subuh
sudah mulai mengusir kegelapan malam. Embun pagi bergantungan di ujung-ujung
daun bambu. Kabut mulai berterbangan, seolah takut menghadapi sinar matahari
yang semakin terang. Burung-burung berkicau dari dahan ke dahan, tampak sibuk
dan cerewet dalam persiapan mereka untuk mencari makan hari itu. Tidak lama
lagi celoteh mereka akan terhenti dan mereka akan berterbangan ke segenap
penjuru untuk mencari makan. Sinar matahari mulai menyusuri tebing-tebing dan
jurang-jurang di pegunungan kawi, menjenguk semua celah dan menghidupkan segala
yang tampak di permukaan bumi.
Sutejo telah bangun sejak ayam jantan berkokok tadi. Dia sudah sibuk
bekerja, mengambil air dari sumber dan memenuhi semua gentong dan tempayan
tempat air, lalu memasak air untuk membuatkan minuman bagi gurunya. Ketela dan
pohung yang diambilnya kemarin masih bersisa banyak dan dia tahu bahwa gurunya
suka sekali makan ketela dan pohung yang dibakar, maka diapun membakar beberapa
butir pala-kependam itu. Gurunya hanya minum air teh yang encer, tanpa gula.
Sambil bekerja, Sutejo selalu waspada. Dia tidak lupa akan kat-kata gurunya bahwa
para penyerang gelap dengan ilmu hitam semalam, hari ini tentu akan muncul.
Setelah selesai semua pekerjaannya, dia cepat mandi dengan air dingin sehingga
tubuhnya terasa segar dan penuh semangat.
Gurunya juga terbangun dan segera pergi ke tempat pemandian di mana telah
tersedia air setempayan besar penih. Setelah Bhagawan Sidik Paningal duduk di
pendopo rumah itu seperti biasa setiap pagi, Sutejo lalu menghidangkan ketela
dan pohung bakar dengan air teh. Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk tanda
senangnya hati lalu mulai sarapan sederhana itu. Dia menawarkan kepada Sutejo
dan pemuda ini pun menemani gurunya sarapan pagi.
Sinar matahari telah mulai menyentuh pelataran rumah itu ketika mereka
melihat datangnya tiga orang itu. Sutejo memandang dengan penuh perhatian. Dia
tidak mengenal tiga orang itu. Yang seorang adalah seorang pendet yang bertubuh
tinggi besar bermuka hitam, akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata
harimau. Pendeta ini berusia kurang lebih enam puluh tahun dan tangan kanannya
memegang sebatang tongkat hitam. Orang kedua juga seorang laki-laki tinggi
besar yang kumisnya melintang sekepal sebelah, tampak gagah dan juga seram.
Dipundaknya tergantung sebatang golok yang sarungnya terukir indah. Adapun
orang ketiga bertubuh kecil pendek, berusia kurang dari orang kedua, paling
banyak lima puluh tahun dan dia tampak gesit dan cekatan. Dipinggangnya
terselip sebatang keris dan tiga batang pisau belati telanjang.
“Kakakng Sidik Paningal!” Pendeta itu berseru memanggil dengan suaranya
bukan mengandung salam, melainkan mengandung teguran.
“Ah, andhika yang datang. Adi Jaladara dan tidak tahu siapakan andika,
dua orang yang datang bersama adi Jaladara?” tanya Bhagawan Sidik Paningal
dengan suara lembut dan wajah mengandung keramahan.
“Aku bernama Ki Warok Petak!” kata orang tinggi besar yang berkumis
tebal.
“Dan aku adalah Ki Baka Kroda!” kata orang yang bertubuh kecil pendek.
Sikap kedua orang ini ketika memperkenalkan diri begitu angkuh seolah
memperkenalkan nama yang sudah amat terkenal. Akan tetapi Sutejo belum pernah
mendengar nama-nama itu, bahkan nama Bhagawan Jaladara juga belum pernah
didengarnya.
“Selamat datang dan selamat pagi adi Jaladara dan kalian. Ki Warok Petak
dan Ki Baka Kroda. Mari silakan duduk dan membagi sarapan pagi sekedarnya ini
bersamaku.” Kata bhagawan Sidik Paningal dengan suara ramh dan tidak
dibuat-buat.
Akan tetapi tiga orang itu tetap berdiri dengan kaki terpentang lebar dan
sikap menantang. Bhagawan Jaladara mengelus jenggotnya yang panjang dan alisnya
berkerut, mulutnya cemberut sebelum dia menjawab dengan suara yang kaku.
“Kakang Sidik Paningal, andika tentu tahu bahwa kunjunganku ini bukan
untuk sarapan pohung bersamamu dan bukan untuk mengobrol denganmu!”
Bhagawan Sidik Paningal masih sabar dan senyumnya tidak pernah
meninggalkan wajahnya yang cerah dan berseri itu. “ Kalian bukan untuk itu,
apakah andika berkunjung untuk membicarakan peristiwa semalam. Adi Jaladara?”
Wajah yang sudah hitam itu berubah semakin hitam dan matanya yang
mencorong itu mengeluarkan sinar berapi ketika dia meluruskan lehernya dan
menatap wajah Bhagawan Sidik Paningal dengan alis berkerut.
“Peristiwa semalam tidak perlu dibicarakan lagi. Andika telah dapat
menangkis serangan kami, akan tetapi pagi hari ini, kalau andika tetap tidak
mau mendengarkan saran kami, terpaksa kami akan bertindak keras dan tidak
memberi ampun kepadamu.”
“Hmm, Adi Jaladara. Coba ulangi apa saranmu itu. Aku sudah hampir lupa.”
Kata Bhagawan Sidik Paningal dengan sabar.
“Lupa atau pura-pura lupa? Kami mendengar bahwa andika mulai tertarik dan
mempelajari agam baru, berarti andika mengingkari guru kita dan melupakan agama
sendiri. Kedua, andika telah menolak untuk diajak bekerja sama membantu Bupati
Wirosobo.”
“Ah, itukah yang kau maksudkan? Adi Jaladara, aku adalah seorang manusia
yang bebas untuk mempelajari agama apapun juga dan aku melihat bahwa Agama
Islam tidak menyimpang dari ajaran-ajaran lama. Bukan berarti aku melupakan
agama sendiri. Siapapun tidak berhak untuk melarang aku mempelajari Agama
Islam. Bahkan kalau andika mau, ada baik sekali kalau andika juga
mempelajarinya sehingga andika akan dituntun kembali ke jalan benar,
meninggalkan jalan dursila.”
“Pengkhianat! Andika memburuk-burukkan agam sendiri dan memuji agama
baru?”
“Bukan, karena yang jahat dan baik itu bukan agamanya, melainkan manusianya.
Semua agama mengajarkan kebajikan, namun manusianya sendiri yang mengingkari
semua pelajaran itu dan terperosok ke jalan sesat. Apakah kau kira Sang Hyang
Widhi akan meridhoi jalan yang kau tempuh semalam, mengirim santet untuk
menyerang orang secara rahasia dan pengecut? Sadarlah, Adi Jaladara bahwa jalan
yang kau tempuh itu sesat dan keliru.”
“Babo-babo, kakang Sidik Paningal. Kata-katamu semakin membakar hatiku.
Sekarang katakanlah apakah andika tetap tidak mau bekerja sama untuk membantu
Bupati Wirosobo. Bukankah kita berasal dari daerah Wirosobo? Andika tidak mau
membantu bahkan memusuhi daerah sendiri?”
|