Newsflash

Bagi yang punya website / blogs silahkan kirim email ke kami URL anda supaya kami bisa tambahkan di Link.

Silahkan share cerita silat atau cerita lainnya yang anda punya.  Login lalu klik Upload/Download.  Terima kasih.

Jika anda punya buku silat, film silat, atau barang lain yang anda ingin jual, silahkan pasang iklan gratis di Classified Ads / If you have items that you want to sell, you can post your ads for free on Classified Ads.  This site has many visitors thus your ads will have great exposure.  

 

PayPal Donation

Enter Amount:

powered_by.png, 1 kB

Home arrow Contents arrow Latest arrow Pecut Sakti BrajaKirana
Pecut Sakti BrajaKirana PDF Print E-mail
User Rating: / 65
PoorBest 
Written by Administrator   
Saturday, 12 January 2008
Article Index
Pecut Sakti BrajaKirana
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6

karya :   Kho Ping Hoo

dikirim oleh : Yoeng Kiong - belum  Tamat


Malam Jumat kliwon yang gelap pekat dan menyeramkan dalam tahun 1613. Dilereng Gunung Kawi yang sunyi sepi itu suasananya demikian angker dan menyeramkan. Sebuah pondok kayu yang berdiri di lereng sebelah timur tampak sunyi diselimuti malam. Hanya sebuah lampu gantung kecil menerangi depan pondok, sinarnya yang lemah menimbulkan bayang-bayang besar dan menakutkan, menjadikan rupa-rupa bentuk yang mengerikan. Pohon-pohon besar di sekitarnya yang tersapu angin malam tampak seolah-olah menjadi hidup dan bergerak-gerak.
 
 “Kulik-kulik-kulik……!” Suara burung malam yang terdengar lapat-lapat menambah seram suasana dan bau kemenyan menyengat hidung. Bau kemenyan ini mengingatkan orang-orang mati dan setan iblis belasakan.
 
 Terpisah dua lereng di bawah pondok itu lapat-lapat dapat terdengar suara anjing meraung, datang dari arah dusun di sana yang tampak lampunya berkelap-kelip dari lereng di pondok itu. Tentu malam itu tak seorang pun dari para penduduk dusun itu berani keluar, karena telah menjadi kepercayaan turun temurun bahwa malam Jumat kliwon adalah malamnya bangsa setan demit dan iblis yang berkeliaran di permukaan muka bumi untuk menggoda manusia.
 
 Di dalam pondok kayu itu pun suasananya sepi sekali seolah pondok itu tidak ada penghuninya. Padahal penghuni pondok itu sedang duduk bersila di atas pembaringannya. Seorang laki-laki berusia enam puluh lima tahun, rambutnya yang sudah hampir putih semua itu digelung ke atas dan diikat kain berwarna kuning. Jubahnya seperti jubah pendeta yang berwarna putih dan hanya merupakan pakaina yang amat sederhana. Wajahnya masih tampak segar seperti wajah seorang muda saja, terutama sekali sepasang matanya yang lembut itu kadang mengeluarkan cahaya mencorong, menandakan bahwa dia seorang pendeta atau pertapa yang memiliki kesaktian dan tenaga dalam yang amat kuat.
 
 Dari pintu kamarnya muncuk seorang pemuda yang segera duduk bersila di bawah pembaringan. Melihat pertapa itu seperti orang dalama samadhi, pemuda itu tidak berani menggangunya, hanya duduk diam seperti gurunya, bersila dan memangku kedua tangan. Tak lama kemudian keduanya sudah tenggelam ke dalam samadhi mereka dan suasana menjadi semakin sunyi. Siapakah pendeta itu? Dia seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun bertapa di lereng Gunung Kawi. Namanya disebut orang Bhagawan Sidik Paningal. Seorang tua yang bertubuh jangkung kurus, yang mukanya masih segar seperti muka orang muda dan wajah itu masih terdapat bekas wajah seorang pria yang tampan dan lembut. Adapun pemuda yang duduk bersila di bawah pemabaringan itu adalah Sutejo, muridnya yang terkasih. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dengan dada yang bidang dan kedua pundak dan lengannya tampak kokoh kuat. Wajahnya tampan dengan sepasang mata lebar yang memandang dunia dengan sinar mata cerah dan penuh semangat, sepasang alisnya hitam tebal, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengandung senyum yang ramah. Dagunya berlekuk menambah kejantanan wajah itu, dan kulit tubuhnya juga bersih kemuning. Rambutnya panjang ditekuk dan digelung ke atas, diikat dengan sehelai kain biru. Bajunya berlengan penadek sebatas siku, celananya hitam sampai ke betis dan sehelai sarung dikalungkan di pundak kiri. Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dia menghadap gurunya bersamadhi, diapun tidak berani menggangu, hanya mengikuti contoh gurunya, ikut pula bersamadhi di depan gurunya.
 
 Tiba-tiba Bhagawan Sidik Paningal terbatuk-batuk tiga kali. Batuk yang lebih merupakan isyarat kepada muridnya yang berada di depannya bahwa dia kini sudah sadar dari samadhinya dan isyarat itupun bertanya apa keperluan muridnya memasuki kamarnya dan menghadap.
 
 Sutejo menangkap isyarat itu dan menyembah. “Mohon maaf Bapa, bahwa saya berani menghadap dan mengganggu samadhi Bapa. Akan tetapi, Bapa, sejak senja tadi, saya merasakan sesuatu yang aneh, suasana yang berlainan sekali daripada malam-malam yang lain. Seluruh perasaan saya tergugah, bahkan batin saya merasa terkacau oleh suatu tenaga yang rahasia. Karena itu saya berani mengganggu Bapa untuk minta penjelasan apa artinya semua yang saya rasakan pada saat ini.”
 
 “Hong wilaheng…. Andika juga merasakan itu, Sutejo? Bagus, hal itu menunjukkan bahwa andika telah memiliki kepekaan. Memang apa yang andika rasakan itu ada sebabnya, cukup. Sekarang cepatlah engkau pergi ke belakang, mengambil air jernih sepiring dan letakan piring itu di depan kita di sini. Cepat, mereka telah mulai menyerang!”
 
 Sutejo terkejut. Siapa yang mulai menyerang? Dan menyerang bagaimana yang dimaksudkan gurunya? Akan tetapi dia tidak bertanya dan cepat melaksanakan perintah gurunya, mengambil air jernih dalam sebuah piring yang dibawanya masuk lagi ke kamar gurunya lalu meletakkan piring itu di atas lantai di antara mereka.
 
 “Bagus! Sekarang mari kita bersamadhi lagi dan kerahkan seluruh tenaga batinmu untuk melindung dirimu dari marabahaya. Kerahkan aji kekebalanmu seolah engkau berhadapan dengan musuh yang hendak menikam tubuhmu. Dan jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang kukatakan.”
 
 “Sendhika, Bapa Guru.” Sutejo tidak bertanya-tanya, melainkan sepenuhnya menaati perintah gurunya. Dia bersila lagi dan bersamadhi mengumpulkan seluruh akal pikirannya dan mengerahkan aji kekebalan untuk melindungi tubuhnya.
 
 “Kulik-kulik-kulik......!” Burung malam itu seperti terbang melewati atas pondok mereka sambil mengeluarkan bunyi yang mengerikan itu.
 
 Akan tetapi Sutejo tidak memperdulikan suara itu dan tetap tenggelam ke dalam samadhinya. Terdengar pula raungan anjing di kejauhan dan kelepak sayap burung di atas rumah, lalu bunyi seperti dua batang tulang dipukul-pukulkan, “Tek-tek-tek-tek!” Menurut dongeng tahyul itu adalah suara setan tetekan.
 
 Akan tetapi semua itu tidak menggoyahkan Sutejo yang tetap tenang dalam samadhinya. Bau kembang menyan semakin menyentuh hidung dan tiba-tiba Sutejo merasa dadanya dan lehernya tertusuk sesuatu yang runcing. Akan tetapi aji kekebalannya menolak tusukan itu dan terdengar suara nyaring berdenting di depannya, di atas piring terisi air jernih itu. Sampai beberapa kali peristiwa itu berulang, namun semua tusukan tidak ada yang mempan ketika mengenai kulit tubuh Sutejo yang sudah dilindungi aji kekebalan Kawoco (Baju Besi) itu.
 
 Kemudian sunyi kembali dan terdengar Bhagawan Sidik Paningal terbatuk tiga kali. Sutejo membuka matanya dan yang pertama kali dilihatnya adalah piring terisi air jernih itu. Dan di dalam air itu, tampak jelas adanya beberapa batang jarum dan paku berserakan di dalam piring! Bhagawan Sidik Paningal membuat gerakan dan ternyata kakek itu melemparkan dua batang cundrik (keris kecil) dari atas pembaringan. Dua batang cundrik itu jatuh ke atas lantai dekat piring dan Sutejo melihat betapa ujung kedua batang cundrik itu berwarna biru kehitaman, tanda bahwa dua batang senjata kecil itu mengandung racun yang amat berbahaya.
 
 “Sadhu-sadhu-sadhu-sadhu...! Keji sekali orang yang menyerang kita dengan ilmu hitamnya.”
 
 Suetjo terbelalak. “Kita diserang orang, Bapa? Jadi beginikah orang menyerang dengan gelap dengan ilmu santet?” Sutejo pernah diceritakan gurunya tentang ilmu hitam dan ilmu santet akan tetapi baru sekarang ini dia menyaksikan sendiri karena diapun menjadi sasaran serangan santet!
 
 Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk. “Bawalah semua itu ke belakang dan tanam dua batang cundrik dan semua paku dan jarum itu ke dalam tanah.”
 
 Tanpa bicara Sutejo melaksanakan perintah gurunya lalu dia duduk kembali di hadapan gurunya.
 
 “Akan tetapi, Bapa. Bukankah Bapa dulu pernah mengatakan bahwa serangan ilmu hitam seperti itu dapat ditangkis dan semua serangannya dapat dikembalikan kepada penyerangnya? Kenapa Bapa malah memerintahkan saya untuk mengubur semua senjata rahasia itu?”
 
 “Kulup, membalas kejahatan dengan kejahatan pula adalah perbuatan sesat. Mereka menyerang dengan santet kepada kita, hal itu jelas merupakan kecurangan dan kejahatan. Kalau sekarang kita menyerang mereka dengan cara yang sama, bukankah itu berarti keadaan kita tidak sama dengan mereka? Tidak, muridku. Dan ingatlah bahwa selama hidupmu engkau tidak boleh melakukan penyerangan dengan ilmu santet yang jahat dan curang itu.”
 
 “Lalu, kalau demikian, apakah kita harus mendiamkan saja perbuatan jahat orang terhadap kita?”
 
 “Jangan khawatir akan hal itu. Yang menjerat seseorang, yang membalas seseorang adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Aku percaya bahwa besok pagi penyerangnya sendiri akan datang ke sini. Sekarang beristirahatlah engkau, Sutejo karena besok akan terjadi hal-hal menegangkan yang mungkin akan menguras tenaga kita. Jangan khawatir, biasanya serangan ilmu hitam yang tidak mengenai sasaran tidak akan diulangi dalam semalam. Tidurlah.”
 
 “Sendhika, Bapa.”
 
 Suetjo lalu memasuki kamarnya sendiri. Pondok kayu sederhana itu memang hanya memiliki dua buah kamar yang bersebelahan. Biarpun baru saja menghadapi peristiwa yang menegangkan, namun begitu Sutejo mengambil keputusan untuk menaati gurunya dan tidur, maka segera dia tertidur lelap.
 
   *******
 
   Matahari pagi muncul dengan megahnya. Sinarnya sejak subuh sudah mulai mengusir kegelapan malam. Embun pagi bergantungan di ujung-ujung daun bambu. Kabut mulai berterbangan, seolah takut menghadapi sinar matahari yang semakin terang. Burung-burung berkicau dari dahan ke dahan, tampak sibuk dan cerewet dalam persiapan mereka untuk mencari makan hari itu. Tidak lama lagi celoteh mereka akan terhenti dan mereka akan berterbangan ke segenap penjuru untuk mencari makan. Sinar matahari mulai menyusuri tebing-tebing dan jurang-jurang di pegunungan kawi, menjenguk semua celah dan menghidupkan segala yang tampak di permukaan bumi.
 
 Sutejo telah bangun sejak ayam jantan berkokok tadi. Dia sudah sibuk bekerja, mengambil air dari sumber dan memenuhi semua gentong dan tempayan tempat air, lalu memasak air untuk membuatkan minuman bagi gurunya. Ketela dan pohung yang diambilnya kemarin masih bersisa banyak dan dia tahu bahwa gurunya suka sekali makan ketela dan pohung yang dibakar, maka diapun membakar beberapa butir pala-kependam itu. Gurunya hanya minum air teh yang encer, tanpa gula. Sambil bekerja, Sutejo selalu waspada. Dia tidak lupa akan kat-kata gurunya bahwa para penyerang gelap dengan ilmu hitam semalam, hari ini tentu akan muncul. Setelah selesai semua pekerjaannya, dia cepat mandi dengan air dingin sehingga tubuhnya terasa segar dan penuh semangat.
 
 Gurunya juga terbangun dan segera pergi ke tempat pemandian di mana telah tersedia air setempayan besar penih. Setelah Bhagawan Sidik Paningal duduk di pendopo rumah itu seperti biasa setiap pagi, Sutejo lalu menghidangkan ketela dan pohung bakar dengan air teh. Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk tanda senangnya hati lalu mulai sarapan sederhana itu. Dia menawarkan kepada Sutejo dan pemuda ini pun menemani gurunya sarapan pagi.
 
 Sinar matahari telah mulai menyentuh pelataran rumah itu ketika mereka melihat datangnya tiga orang itu. Sutejo memandang dengan penuh perhatian. Dia tidak mengenal tiga orang itu. Yang seorang adalah seorang pendet yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata harimau. Pendeta ini berusia kurang lebih enam puluh tahun dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam. Orang kedua juga seorang laki-laki tinggi besar yang kumisnya melintang sekepal sebelah, tampak gagah dan juga seram. Dipundaknya tergantung sebatang golok yang sarungnya terukir indah. Adapun orang ketiga bertubuh kecil pendek, berusia kurang dari orang kedua, paling banyak lima puluh tahun dan dia tampak gesit dan cekatan. Dipinggangnya terselip sebatang keris dan tiga batang pisau belati telanjang.
 
 “Kakakng Sidik Paningal!” Pendeta itu berseru memanggil dengan suaranya bukan mengandung salam, melainkan mengandung teguran.
 
 “Ah, andhika yang datang. Adi Jaladara dan tidak tahu siapakan andika, dua orang yang datang bersama adi Jaladara?” tanya Bhagawan Sidik Paningal dengan suara lembut dan wajah mengandung keramahan.
 
 “Aku bernama Ki Warok Petak!” kata orang tinggi besar yang berkumis tebal.
 
 “Dan aku adalah Ki Baka Kroda!” kata orang yang bertubuh kecil pendek. Sikap kedua orang ini ketika memperkenalkan diri begitu angkuh seolah memperkenalkan nama yang sudah amat terkenal. Akan tetapi Sutejo belum pernah mendengar nama-nama itu, bahkan nama Bhagawan Jaladara juga belum pernah didengarnya.
 
 “Selamat datang dan selamat pagi adi Jaladara dan kalian. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Mari silakan duduk dan membagi sarapan pagi sekedarnya ini bersamaku.” Kata bhagawan Sidik Paningal dengan suara ramh dan tidak dibuat-buat.
 
 Akan tetapi tiga orang itu tetap berdiri dengan kaki terpentang lebar dan sikap menantang. Bhagawan Jaladara mengelus jenggotnya yang panjang dan alisnya berkerut, mulutnya cemberut sebelum dia menjawab dengan suara yang kaku.
 
 “Kakang Sidik Paningal, andika tentu tahu bahwa kunjunganku ini bukan untuk sarapan pohung bersamamu dan bukan untuk mengobrol denganmu!”
 
 Bhagawan Sidik Paningal masih sabar dan senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya yang cerah dan berseri itu. “ Kalian bukan untuk itu, apakah andika berkunjung untuk membicarakan peristiwa semalam. Adi Jaladara?”
 
 Wajah yang sudah hitam itu berubah semakin hitam dan matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar berapi ketika dia meluruskan lehernya dan menatap wajah Bhagawan Sidik Paningal dengan alis berkerut.
 
 “Peristiwa semalam tidak perlu dibicarakan lagi. Andika telah dapat menangkis serangan kami, akan tetapi pagi hari ini, kalau andika tetap tidak mau mendengarkan saran kami, terpaksa kami akan bertindak keras dan tidak memberi ampun kepadamu.”
 
 “Hmm, Adi Jaladara. Coba ulangi apa saranmu itu. Aku sudah hampir lupa.” Kata Bhagawan Sidik Paningal dengan sabar.
 
 “Lupa atau pura-pura lupa? Kami mendengar bahwa andika mulai tertarik dan mempelajari agam baru, berarti andika mengingkari guru kita dan melupakan agama sendiri. Kedua, andika telah menolak untuk diajak bekerja sama membantu Bupati Wirosobo.”
 
 “Ah, itukah yang kau maksudkan? Adi Jaladara, aku adalah seorang manusia yang bebas untuk mempelajari agama apapun juga dan aku melihat bahwa Agama Islam tidak menyimpang dari ajaran-ajaran lama. Bukan berarti aku melupakan agama sendiri. Siapapun tidak berhak untuk melarang aku mempelajari Agama Islam. Bahkan kalau andika mau, ada baik sekali kalau andika juga mempelajarinya sehingga andika akan dituntun kembali ke jalan benar, meninggalkan jalan dursila.”
 
 “Pengkhianat! Andika memburuk-burukkan agam sendiri dan memuji agama baru?”
 
“Bukan, karena yang jahat dan baik itu bukan agamanya, melainkan manusianya. Semua agama mengajarkan kebajikan, namun manusianya sendiri yang mengingkari semua pelajaran itu dan terperosok ke jalan sesat. Apakah kau kira Sang Hyang Widhi akan meridhoi jalan yang kau tempuh semalam, mengirim santet untuk menyerang orang secara rahasia dan pengecut? Sadarlah, Adi Jaladara bahwa jalan yang kau tempuh itu sesat dan keliru.”
 
“Babo-babo, kakang Sidik Paningal. Kata-katamu semakin membakar hatiku. Sekarang katakanlah apakah andika tetap tidak mau bekerja sama untuk membantu Bupati Wirosobo. Bukankah kita berasal dari daerah Wirosobo? Andika tidak mau membantu bahkan memusuhi daerah sendiri?”

 



Last Updated ( Saturday, 12 January 2008 )
 
< Prev   Next >
© 2010 Cerita Silat