Eksklusif
Cersil Eksklusif ini dapat dibaca gratis sampai tamat

Bab 5 – Asmarawati Masuk Perangkap

• Dendam Pangeran Terbuang •

👁️ 4 views

KADIPATEN Kartoharjo menyambut kedatangan Gusti Kanjeng Ratu Surtikanthi dan Gusti Raden Ajeng Asmarawati dengan meriah. Tarian selamat datang, bunga tabur, dan payung kebesaran menyambut rombongan istana dengan tata cara yang agung dan semarak.

Adipati Kartoharjo sendiri yang menyambut kedatangan sang permaisuri di halaman pendopo kadipaten, diapit para sentana dan kerabat. Bahkan dengan tangannya sendiri bangsawan tinggi itu membukakan pintu kereta kencana.

“Sembah hormat hamba bagi Gusti Permaisuri dan Gusti Raden Ajeng,” ucap Adipati Kartoharjo, sembari berlutut diikuti seluruh yang mendampinginya.

“Tidak perlu banyak basi-basi, Paman Adipati. Bawa kami ke dalam, Asmarawati sudah terlalu lama kepanasan di jalan,” sahut Permaisuri, sembari matanya menatap satu demi satu para penyambut di hadapannya.

Ketika tatapannya tiba pada seorang pemuda gagah, dengan pakaian kebesaran yang sama mewah seperti Adipati Kartoharjo, tahulah Sang Permaisuri jika itu adalah Raden Mas Bayusentono. Senyum wanita itu mengembang penuh arti.

“Silakan, Gusti Permaisuri, Dimas Karangpandan sudah tiba sejak tadi,” kata Adipati Kartoharjo pula, lalu memberi isyarat agar orang-orang memberi jalan dan membawakan bawaan sang tamu agung.

Benar saja. Baru saja menyeberangi pendopo untuk menuju ke kamar yang disiapkan bagi mereka, Permaisuri melihat Adipati Karangpandan berdiri menyambutnya. Lelaki tua itu tersenyum, sembari tatapannya tak lepas-lepas dari Asmarawati.

“Jagat dewa bhatara! Coba lihat siapa gadis ayu di hadapanku ini,” ujar Adipati Karangpandan ketika Permaisuri dan Asmarawati memberi salam hormat padanya.

“Eyang tidak perlu menciumku,” cegah Asmarawati cepat saat menangkap gelagat sang kakek hendak mengecup pipinya seperti biasa.

Ucapan itu membuat Adipati Karangpandan tertawa lebar. “Lihat, itu tandanya kau sudah dewasa. Bukan lagi gadis kecil yang selalu merindukan kumis putih kakekmu ini.”

Sore itu, sebuah perjamuan besar diselenggarakan. Para tamu berdarah ningrat dari berbagai wilayah di seantero Sinukarta berkumpul, menciptakan suasana yang ramai namun berkelas.

Makanan terbaik, musik gamelan lembut, dan aneka tari-tarian oleh gadis-gadis molek menjadi sajian utama. Para tamu menikmati semua itu sembari terlibat dalam obrolan sopan khas kalangan bangsawan.

Asmarawati duduk di sisi ibunya, diam saja dan tampak bosan. Ia bukan gadis yang mudah terpikat pada keramaian, apalagi jika tahu acara semacam ini biasanya disisipi niat tersembunyi.

Gadis itu sudah menebak, ibunya pasti sengaja memanfaatkan acara ini untuk menjodohkannya dengan putera adipati itu. Ah, entah siapa nama pemuda itu, Asmarawati bahkan tidak bisa mengingatnya.

Tengah dirinya melamun, seorang pemuda muncul di hadapan Asmarawati. Si gadis terpana manakala menatap wajah tampan yang hanya berjarak beberapa langkah darinya. Entah mengapa darahnya seakan mengalir lebih cepat sejak saat itu.

“Mohon ampun jika membuat Gusti Raden Ajeng terkejut,” sapa pemuda itu, sambil menunduk, “hamba hanya ingin mengucapkan selamat datang di Kartoharjo. Hamba Bayusentono, putera Adipati Kartoharjo.”

Asmarawati tak kuasa menjawab. Sekujur tubuhnya serasa kaku, jantungnya berdetak lebih kencang. Hanya sepasang matanya yang membeliak lebar, tatapannya tertuju pada wajah si pemuda.

Pemuda itu tidak membungkuk terlalu rendah, tetapi cukup untuk menunjukkan hormat. Senyumnya tenang, tak dibuat-buat. Wajahnya bersih, sorot matanya terang. Bukan tampan luar biasa, tetapi memiliki sesuatu yang memikat: ketegasan dan percaya diri.

“Mmm, Gusti Raden Ajeng tidak apa-apa?” tanya Bayusentono melihat Asmarawati diam saja tak bergerak tak bersuara.

Barulah Asmarawati tergeragap sadar. Ia menatap Bayusentono sejenak, kemudian mengangguk ringan. Berusaha tampak tenang.

“Senang bertemu denganmu, Raden,” sahutnya kemudian, kikuk.

“Hamba yang seharusnya merasa senang bertemu dengan Gusti Raden Ajeng,” tukas Bayusentono, sembari tersenyum simpul. “Semoga tidak berkesan lancang kalau hamba bilang, Gusti Raden Ajeng lebih… menawan pandangan dari yang diceritakan banyak orang di luaran sana.”

Asmarawati nyaris tertawa mendengar itu, tetapi berusaha sekuat mungkin menahannya dengan anggun. Ia tidak menyangka, pemuda di hadapannya ini ternyata lebih pandai berkata-kata dari yang ia bayangkan.

“Paman Karangpandan pernah bercerita, Gusti Raden Ajeng sangat suka sekali pada kembang melati,” kata Bayusentono lagi. “Mari, hamba ajak ke kebun melati Kadipaten. Kebetulan sekali sedang banyak yang mekar malam ini.”

Untuk kesekian kali Asmarawati terkesima. Ia tak menyangka jika kakeknya sudah menceritakan tentang dirinya pada Bayusentono. Lebih dari itu, ia sangat terkesan karena pemuda di hadapannya mengingat beberapa hal yang disukainya.

Malam itu, usai mengajak Asmarawati melihat-lihat kebun melati dan memetik beberapa yang mekar, Bayusentono dengan cerdas tidak menempel terus, tetapi hadir cukup sering—sekadar mengajak bicara ringan, menawarkan minuman, atau menyambung pembicaraan yang sempat terputus. Ia tahu kapan harus datang, kapan mundur.

Dan semua itu… justru membuatnya semakin menarik di mata Asmarawati.

***

Keesokan harinya…

Rombongan Permaisuri meninggalkan Kadipaten Kartoharjo. Tidak langsung kembali ke istana, melainkan singgah dulu ke Karangpandan atas permintaan Adipati Karangpandan.

Sepanjang perjalanan, Asmarawati lebih banyak diam di dalam kereta. Namun bukan karena murung. Gadis itu tampak larut dalam pikirannya sendiri. Senyum kecil beberapa kali terbit di bibirnya, seolah sedang mengingat sesuatu yang menyenangkan.

Permaisuri memperhatikan gelagat puterinya dengan seksama. Begitu tiba di Karangpandan, ia menunggu saat yang tepat sebelum membuka percakapan di dalam kamar mereka.

“Mengapa diam terus, Marawati?”

Asmarawati tersipu, lalu menjawab perlahan, “Tidak apa-apa, Ibu.”

“Sepertinya ada yang membuatmu terkesan dan tidak bisa melupakan Kartoharjo,” kata Permaisuri lagi, sengaja memancing.

Asmarawati tidak menjawab. Namun rona merah di pipinya berbicara lebih lantang dari mulutnya yang membisu.

Senyum Permaisuri merekah pelan. Sejak saat itu ia tahu betul, rencana yang diusulkan ayahnya berhasil. Asmarawati tengah jatuh cinta pada pandangan pertama. Membuatnya tak sabar berbagi kabar ini pada Adipati Karangpandan.

“Aku harap ini pertanda bagus,” ujar Adipati Karangpandan saat ditemui Permaisuri di halaman belakang, sambil menyeruput teh. “Rencana kita berjalan sesuai yang diharapkan. Sekarang, kita harus terus berlari dan membereskan semuanya sebelum segala sesuatu berubah.”

Permaisuri mengangguk. “Tapi bagaimana dengan Gusti Prabu? Aku lihat belakangan ini beliau semakin dekat dengan Pandansari.”

“Kau tidak perlu khawatir, Anakku. Kalau pernikahan Marawati dan Bayusentono kita segerakan, perhatian Gusti Prabu pasti akan tersita ke sana. Ini akan menjadi upacara pernikahan anaknya yang pertama kali baginya. Kita akan dapat waktu. Sementara itu, hubungan Kartoharjo dan Karangpandan akan makin kuat. Kalau kelak kita ingin mengatur kekuasaan baru… semua sudah siap.”

Permaisuri mengangguk pelan. “Terserah Ayahanda saja bagaimana baiknya. Akan tetapi aku ingin Marawati harus tetap merasa itu pilihannya sendiri. Aku tak mau dia tahu kita yang mendorongnya ke dalam semua ini.”

“Ya, memang seharusnya seperti itu. Karena itulah yang membuatnya akan bertahan dalam permainan ini,” sahut sang Adipati, setengah berbisik. “Tak ada yang lebih kuat dari kehendak yang dibentuk diam-diam.”

Dukung Pengarang Cersil

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Pengarang

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!