Bab 9 – Lamaran dari Kartoharjo
HANYA selang beberapa jam setelah pertemuan dua adipati agung di Karangpandan, kabar tersebut sudah sampai ke Kotaraja. Telik sandi yang melapor bahkan juga menyampaikan rencana kedatangan Adipati Kartoharjo ke istana untuk meminang Gusti Raden Ajeng Asmarawati.
Laporan itu segera disampaikan oleh Patih Wongsopati saat menghadap keesokan paginya, ketika Sri Prabu Tribhuwana tengah menikmati pemandangan taman dari serambi timur.
“Menurut laporan telik sandi kita, Adipati Kartoharjo akan tiba di sini lusa, Gusti. Tujuannya menghadap adalah ingin menyampaikan maksud baik terkait masa depan puteranya dengan Gusti Raden Ajeng,” ujar sang patih.
Sang Prabu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, dengan bibirnya membentuk senyum tipis.
“Hmm, mereka benar-benar bertindak cepat,” gumam Sang Prabu kemudian. “Menurut Paman Patih, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah merestui pernikahan Asmarawati dengan putera Adipati Kartoharjo sebuah langkah tepat bagiku, bagi kerajaan?”
Patih Wongsopati tampak kebingungan hendak menjawab apa, tetapi kemudian berkata, “Menurut hamba keputusan yang telah Gusti Prabu ambil sudah tepat. Ini malah seperti bentuk dukungan alam semesta terhadap keputusan tersebut.”
Prabu Tribhuwana tersenyum dan mengangguk-angguk. Tatapannya dilempar jauh ke halaman yang membentang di depan sana.
“Sampaikan pada Paman Demung untuk mempersiapkan kedatangan rombongan dari Kartoharjo. Sambut mereka dengan upacara kehormatan yang pantas sebagai calon besan raja,” ucapnya kemudian.
“Sendika dawuh.”
Begitu Patih Wongsopati undur diri, Sang Prabu tetap di tempatnya. Ia memandang taman di kejauhan, di mana Andhanu tampak sedang duduk menyendiri di bawah pohon beringin rindang, memandangi kolam yang tenang.
Tak seperti biasanya, bocah itu hanya duduk diam, tidak berlari ke sana kemari. Sekalipun kakak kesayangannya Asmarawati telah kembali dari Karangpandan, anak enam tahun yang biasanya selalu ceria tampak selalu murung.
Sang Prabu memejamkan mata sejenak. Dalam benaknya ia menyetujui ucapan Patih Wongsopati tadi.
Ajakan tali pernikahan antara Asmarawati dan putera Adipati Kartoharjo menjadi lebih dari sekadar urusan pribadi. Sang Prabu melihatnya sebagai peluang besar untuk mempertegas sekaligus memperlancar jalan bagi pewarisan takhta Sinukarta.
Biarlah mereka sibuk mengatur pesta dan arak-arakan… batinnya. Sementara itu, aku akan menyiapkan takhta untuk putera yang layak. Bukan karena garis darah ibunya, tapi karena kepantasannya menjadi seorang pemimpin negeri.
***
DI kediaman Permaisuri, suasana tampak lebih meriah dari biasanya. Pelayan-pelayan sibuk menata kain dan perhiasan yang baru saja dikirim dari Kartoharjo.
Sementara itu, di ruang dalam, Asmarawati tengah duduk di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri dengan tatapan bingung.
“Adipati Kartoharjo akan segera menghadap Kanjeng Prabu untuk melamarmu secara resmi,” kata Permaisuri dari balik punggung puterinya. “Mudah-mudahan, dalam waktu dekat, segalanya akan menjadi resmi. Kau akan segera menjadi isteri calon adipati.”
Asmarawati menggigit bibir. “Tapi… aku belum yakin, Ibu. Aku tidak tahu apakah ini jalan yang memang sebaiknya aku tempuh.”
Permaisuri tersenyum lembut, lalu menyentuh bahu puterinya. “Kau hanya belum terbiasa. Tapi waktu akan membuatmu yakin. Bayusentono pemuda baik dan cakap. Dia akan menjadi pendamping yang pantas bagimu, dan kita akan punya masa depan yang lebih kuat kalau kau bersamanya.”
Sementara sang ibu berbicara, hati Asmarawati tetap bergetar tak menentu. Ia masih mengingat mata kecil Andhanu yang menatapnya penuh harap beberapa hari lalu, ketika ia berpura-pura tidak mendengar ajakannya bermain.
Kenangan itu menusuk seperti duri kecil yang tak terlihat. Namun di sisi lain ia juga sadar betul telah masuk dalam jerat pesona Bayusentono. Setiap hari yang ada di kepalanya hanyalah pemuda Kartoharjo itu.
“Menurut Ibu, apakah Ayahanda Prabu akan merestui pernikahan kami?” tanya Asmarawati kemudian. “Tidakkah Ayahanda memiliki calon lain, misalnya pangeran dari kerajaan tetangga? Mataram atau Blambangan, bahkan mungkin Bedahulu?”
Pertanyaan itu membuat Permaisuri tertawa, sembari geleng-geleng kepala. “Ayahandamu pasti memberikan restu. Kartoharjo adalah sokoguru Sinukarta. Pertalian ini akan sangat penting bagi kelangsungan kerajaan. Lagipula, Bayusentono sosok yang tidak mungkin ditolak oleh siapapun.”
Kalimat terakhir ibunya membuat Asmarawati tersenyum. Di dalam hati ia mengiyakan. Akan tetapi tetap saja gadis itu merasa ada yang salah dengan semua ini.
***
HARI yang ditunggu-tunggu tiba. Prajurit penjaga tapal batas melaporkan bahwa rombongan dari Kadipaten Kartoharjo sudah memasuki Kotaraja.
Istana bersolek. Panji-panji Kadipaten Kartoharjo berkibar di gerbang selatan, menandakan kedatangan tamu agung. Rakryan Demung sendiri yang memimpin penyambutan, diapit para prajurit istana dan abdi dalam yang membentuk barisan rapi.
Rombongan Adipati Kartoharjo tidak datang dengan gegap gempita, tapi tetap membawa wibawa yang tak terbantahkan. Di barisan depan, sang Adipati menaiki kuda kelabu dengan duduk tegak. Di belakangnya, tampak Bayusentono—putera sulungnya—menunggang kuda putih dengan tatapan tenang dan senyum tipis di bibir.
Pintu regol utama dibuka lebar. Gong berbunyi tiga kali.
Begitu tiba di pendapa utama, Adipati Kartoharjo turun dari kudanya dan membungkuk penuh hormat. Bayusentono ikut menunduk, memperlihatkan unggah-ungguh kebangsawanan yang nyaris sempurna.
“Selamat datang di Istana Madukara,” ujar Rakryan Demung yang menjadi juru penyambut tamu. “Gusti Prabu akan menerima Kanjeng Adipati siang ini di Bangsal Manis.”
“Sembah nuwun. Kami membawa hormat dan niat baik dari tanah Kartoharjo,” jawab sang adipati.
Hari itu acara berlangsung dalam suasana resmi. Setelah upacara penyambutan dan jamuan makan siang, Adipati Kartoharjo dipersilakan menghadap Prabu Tribhuwana di Bangsal Manis yang megah dan sunyi, ditemani Patih Wongsopati dan Rakryan Demung.
Di hadapan Prabu Tribhuwana, Adipati Kartoharjo membungkuk dalam sebagai sikap tunduk seorang abdi kepada raja.
“Hamba datang membawa maksud baik, Gusti Prabu. Hamba bermaksud menyatukan tali persaudaraan yang telah lama terjalin antara istana dan Kadipaten Kartoharjo dengan mengikat Gusti Raden Ajeng Asmarawati dengan putera hamba, Bayusentono.”
Sang Prabu mengangguk, tenang. “Kusambut niat baikmu itu, Paman Adipati. Puteramu, Raden Mas Bayusentono, telah lama kami dengar sebagai pemuda berbudi dan cakap. Aku yakin dia adalah pasangan yang sesuai untuk puteriku.”
“Bersama puteri Paduka, hamba berharap dapat menautkan ikatan keluarga yang mulia ini.”
Senyum Sang Raja mengembang tipis. “Asmarawati adalah bunga istana ini, Paman Adipati. Dan agaknya pertemuan-pertemuan dengan puteramu beberapa waktu belakangan telah membuatnya terjerat asmara. Jika ini adalah garis dari Sang Hyang Agung, tentu aku tak boleh menghalangi kehendak baik itu.”
Sementara kedua lelaki berbicara dalam kalimat-kalimat sopan nan terselubung, Permaisuri menyaksikan dari sisi ruang melalui kisi tirai. Di dalam dadanya, sebuah harapan menjulang. Pernikahan ini memang terkesan menjauhkan mereka dari pusaran takhta, tetapi sebenarnya tengah merekatkan kekuatan dua kadipaten di belakangnya.
Yang Permaisuri tidak ketahui, Sang Prabu pun sedang menjalankan permainannya sendiri.
***
DI sudut taman istana, Andhanu duduk di dekat pagar hidup asoka kuning. Bocah itu menggenggam sebilah kayu, menggores-gores tanah tanpa arah.
Dari kejauhan, sepasang netra beningnya melihat Asmarawati berjalan-jalan di taman ditemani seorang pemuda. Andhanu tak tahu siapa pemuda itu, tetapi tampak cukup dekat dengan kakak kesayangannya sehingga membuat dada bocah itu terasa sesak.
Tak jauh darinya, Pandansari memperhatikan puterinya diam-diam. Hatinya tergerak, tapi ia merasa tak perlu berbuat apa-apa. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi Andhanu, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan mengalami perubahan.
Dukung Pengarang Cersil
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.